Cerita di Christmas Island Bagian 2

3 Mar 2012

bandara1

Penduduknya (Sangat) Ramah Tamah

Pertama kali menginjak Christmas Island, di pintu masuk imigrasi, kami (saya dan 2 orang teman) disambut senyuman teramat manis seorang wanita bule dengan sapaannya yang sangat ramah..

Selamat datang di Christmas Island, apakah ini kunjungan yang pertama?.

Saya sempat bengong, bukan karena petugas imigrasi ini cantik, tapi karena dia menyapa menggunakan bahasa Indonesia. Mungkin karena kami belum menjawab, wanita itu bertanya lagi.

You from Singapore or.., sebelum wanita itu bertanya lebih banyak, saya langsung menjawab dengan sigap.

Ya benar, ini adalah kunjungan kami yang pertama, dan kami dari Indonesia.

Benar kan dugaan saya, makanya saya menggunakan bahasa Indonesia.

Are you know Indonesian language?, tanya saya.

Oh tentu, karena bahasa Indonesia sangat familiar di sini dan kebetulan suami saya adalah guru Bahasa Indonesia.

Sambil memeriksa passport dan visa, kami mengobrol banyak tentang seluk-beluk Christmas Island dengan wanita yang ternyata bernama Linda ini. Yang menarik dari wanita ini adalah selalu tersenyum baik waktu bicara maupun pada saat mendengarkan. Dari Linda juga saya dapat informasi bahwa Bahasa Indonesia merupakan pelajaran wajib di Christmas Island mulai dariPrimary School sampaiSenior High School. (tapi saya tidak tahu apakah pelajaran Bahasa Indonesia masuk UAN di sana atau tidak).

Melewati pintu imigrasi, kami berada di sebuah ruangan dengan bagian pinggirnya dikelilingi dengan deretan kursifiberglass. Di dindingnya dipenuhi gambar-gambar semacam poster tentang Christmas Island. Di pojok ruangan terdapat layar televisi tidak terlalu besar (sekitar 32) yang menayangkan berulang-ulang (karena durasinya cukup pendek) video promosi pulau ini.

Yang paling luar biasa tentang penduduk di sini adalah mereka selalu menyapa dengan senyuman setiap berpapasan dengan kami. Dan kata-kata yang paling sering keluar dari mulut mereka adalah How are you today?. Tentu saja sangat berbeda dengan budaya kita yang tidak saling menyapa jika tidak saling mengenal.

Keluar dari bandara kami disambut oleh seorang keturunan China dan memperkenalkan dirinya bernama I King. Singkat cerita kami mulai menyusuri jalanan aspal pulau ini dengan mengendarai mobilLand Cruiser yang sangat lusuh (seperti tidak pernah dicuci). Belakangan saya tahu mengapa mobil-mobil di sini tidak ada yang mulus, karena selain kondisi jalan yang sangat berdebu (karena banyak bertebaran kapur fosfat), orang-orang di sini memang tidak pernah mencuci mobilnya dengan alasan penghematan air bersih.

Keraham-tamahan penduduk pulau ini langsung terasa dimana setiap kami berpapasan dengan mobil apapun (sedan, pick up, maupun bus), pengemudinya selalu melambaikan tangan yang dibalas pula dengan lambaian tangan pak I King. Ada dua penyebab mengenai kejadian saling melambaikan tangan ini. Yang pertama, pak I King memang termasuk orang yangngetop di sini. Yang kedua, kami (akhirnya) tahu bahwa kebiasaan menyapa dengan melambaikan tangan bagi pengemudi mobil di sini, karena memang penduduk sini sangat ramah.

***

Hari kedua di Christmas Island, pagi itu kami mendengar ketukan pintu. (Pagi itu kami memang belum mulai bekerja karena masih dalam taraf adaptasi selama tiga hari. Rencana hari ini kami akan diajak keliling pulau pak I King sambil orientasi medan di tempat kerja kami nantinya). Teman saya, Ferry, langsung membuka pintu. Saya pikir yang datang pak I King, ternyata seorang perempuan kecil bule tengah membawa nampan besar berisi ayam bakar utuh dengan hiasan daun-daunan di pinggirnya. Wah, jangan-jangan anak ini salah alamat (bukan lagunya Ayu Tingting, sebab dia belum lahir kali), karena kami baru satu hari di pulau ini, pikir saya.

Ini ada kiriman dari Mama buat kalian, kira-kira begitu terjemahan bahasa Indonesia yang diucapkan anak ini sambil matanya melihat ke sebelah kanan berkali-kali tanda memberi isyarat. Kami bertiga ke luar rumah dan melihat sebuah keluarga di sebelah kiri rumah kami sedang berdiri di depan rumahnya sembari melambaikan tangan ke arah kami.

Setelah menerima nampan tadi, kami menghampiri tetangga baru tersebut untuk berkenalan. Mereka sudah tahu kedatangan kami karena mendapatkan informasi dari pak I King. Luar biasa! Senyum dan keramahan mereka mengingatkan saya tentang bagaimana kita bertetangga di Jakarta yang satu sama lainnya tidak saling mengenal atau mungkin tidak mau saling mengenal. Ternyata kiriman-kiriman mereka sering datang terutama pada hari Sabtu atau Minggu. Dan bukan karena kami tidak mau membalas kebaikan mereka, namun kami memang dilarang mengirim makanan kepada mereka karena budaya mengirim makanan hanya dilakukan oleh orang yang sudah berkeluarga kepada orang yang masih bujang.

***

Setelah beberapa hari di Christmas Island, kami mencoba mengikuti gaya hidup penduduk di sini dengan sekali-kali minum di sebuah bar. Karena takut salah berbudaya, sebelum masuk ke sebuah bar, kami mengamati perilaku beberapa pengunjung bar terlebih dahulu. Pengunjung yang datang sendiri lebih cenderung duduk di meja bar depanbartender, namun pengunjung yang membawa teman-temannya duduk di meja bulat yang banyak bertebaran di dalam bar tersebut.

Ketika kami masuk ke dalam bar, saya melihat salah satu pengunjung sedang membawa minuman bir kaleng kira-kira sebanyak 20 kaleng. Sangat unik karena mereka membawa tidak menggunakan nampan, namun direngkuh dengan kedua tangannya. Setelah saya perhatikan di semua meja yang ada, di atasnya terdapat sekitar 20 sampai 30 kaleng bir. Kebiasaan orang sini adalah mereka selalu meremas sampai penyok kaleng-kaleng bir yang sudah selesai diminum, dengan maksud supaya terlihat kaleng-kaleng mana yang sudah kosong dan harus diambil secepatnya oleh pramusaji bar.

Karena kami bertiga tidak biasa minum bir, akhirnya terpaksa saya pesan 4 kaleng bir dan satu kalengsoft drink dengan hanya merogoh 5 dolar (berarti harga satu kalengnya cuma $1, sangat murah jika dibandingkan dengan harga air mineral 660 ml yang harganya $1.5). Belum habis satu kaleng kami meminumnya, tiba-tiba muncul seseorang (salah satu tamu pengunjung) dengan membawa enam kaleng bir dan meletakkannya di atas meja kami, sembari menyapa kami dengan memperkenalkan diri. Dia bilang katanya ini sebagai tanda perkenalan dari mereka. Gila betul! Dan lebih gilanya lagi, satu-persatu dari mereka melakukan hal sama sambil berkenalan dengan kami. Setelah cukup larut malam, kami pulang dengan membawa tidak kurang dari enam puluh kaleng bir!

***

Salah satu pemandangan di Waterfall Beach

Salah satu pemandangan di Waterfall Beach

Pengalaman keramah-tamahan berikutnya adalah ketika saya iseng jalan-jalan pada saat istirahat kerja. Setelah makan siang saya ingin melihat-lihat dengan menuju ke arah barat daya dari arah hotel C.I. Resort. Namun sialbanget (atau malah beruntung?), ternyata saya menuju ke sebuah pantai yang semua pengunjungnya adalah wanita yang sedang bertelanjang bulat. Nama pantainya adalahWaterfall Beach. Kaget campur takut (benar-benar takut karena bisa dianggap pelecehan seksual), saya langsung balik kanan gerak! hendak melarikan diriala Ninja,ga taunya di depan saya lewat tiga orang perempuan (tentu saja maaf- telanjang bulat), salah satunya tersenyum dan menyapa dengan ramahnya.

Halo apa kabar?, saya hanya memberitahu bahwa Anda telah salah jalan, karena di sini hanya diperuntukkan kaum hawa saja.

Mereka bertiga tetap berjalan dengan santainya dan berlalu meninggalkan saya. Tak bisa membayangkan bagaimana merahnya raut muka saya saat itu.

***

Hari Minggu pagi, kami bertiga mengendarai sedan Toyota Cressida menuju pantaiLily Beach yang menurut informasi relatif sepi dari pengunjung dan bukan merupakan pantai terlarang. Setelah memarkir mobil kami langsung menuju pantai yang banyak ditumbuhi dengan pohon pandan berduri. Baru beberapa detik menikmati indahnya pantai, saya mendengar teriakan dua orang yang memanggil dari arah kiri kami. Ternyata ada pasangan (laki dan perempuan bule) yang sedang melambaikan tangannya ke arah kami. Saya berpikir, kenapa harus mengalami pengalaman apes untuk yang kedua kalinya.

Salah satu pemandangan di Lily Beach

Salah satu pemandangan di Lily Beach

Malu sebenarnya hati ini, tapi karena takut melukai perasaan mereka, terpaksa kami menghampiri pasangan tersebut. Yang laki-laki berambut agak panjang sebahu, berkacamata hitam, memakai celana blue jeans dengan baju warnacream lengan panjang yang digulung sampai siku. Dan perempuannya berambut panjang dan berkacamata hitam, menggunakan celana pendek sepaha dengan bagian atasnya (maaf) terbuka tanpa pakaianpun. Kamipun ngobrol saling memperkenalkan diri dengan sekali-kali saya membuang muka ke arah pantai menikmati deburan ombak pantai samudra Hindia.

Inikah yang namanya keramah-tamahan tanpa batas? Entahlah , kami hanya mencoba memadukan dua budaya yang sungguh sangat berbeda.

Sumber : http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/02/18/cerita-di-christmas-island-bagian-2/


TAGS yusuf dwiyono Cerita di Christmas Island Bagian 2


-

Author

Follow Me